Minggu, 05 Desember 2010

tentang bubut tirus

Mesin Bubut

TEORI BUBUT
1. Pengertian
Bubut (turning) adalah suatu proses permesinan dengan cara menghilangkan/pengambilan tatal dari bahan/benda kerja, dimana pahat memotong benda kerja yang berputar.
2. Mesin Bubut
Bagian-bagian terpenting pada mesin bubut :
1.
Kepala tetap dengan kotak roda gigi
9.
Eretan melintang
2.
Kotak roda gigi ulir
10.
Pemutar eretan melintang
3.
Pelat cekam
11.
Eretan atas
4.
Alas
12.
Pemutar eretan atas
5.
Sumbu pembawa untuk ulir
13.
Pempat pahat
6.
Sumbu pembawa untuk pemotongan
14.
Kepala lepas
7.
Eretan
15.
Pemutar kepala atas.
8.
Roda pemutar eretan
2.1 Gambar Perlengkapan Mesin Bubut

2.1.1 Kolet
Kolet adalah alat yang presisi sekali dan sudah dikeraskan yang berfungsi sebagai pemegang benda-benda kerja bulat dan teliti.
Rumah kolet dan lolet itu sendiri harus bersih sebelum digunakan.
Selama bekerja dengan kolet, cincin pengikat harus dipasang pada leher poros.
Kolet yang cocok harus dipilih sesuaidengan diameter benda kerja.
Diameter benda kerja tidak akan pernah dilebihkecilkan daripada 0,10 mm dari diameter kolet.
Jika benda kerja yang diameternya tidak cocok, maka kolet akan rusak.
Jika kita mempunyai kolet yang tidak cocok untuk benda kerja, maka benda kerja dijepit dengan pelat cekam.
3. Gerakan-gerakan dalam membubut
3.1 Gerakan berputar
Kecepatan putar benda kerja digerakkan pada pahat, dan disebut kecepatan potong.
3.2 Gerakan memanjang
Jika pemotongan itu arahnya sejajar dengan sumbu benda kerja, gerakan ini disebut gerakan memanjang atau pemakanan.
3.3 Gerakan melintang
Jika pemotongan itu arahnya tegak lurus terhadap sumbu benda kerja, maka disebut gerakan melintang atau pemotongan permukaan (facing).
4. Perputaran dan Pemakaian dalam membubut
Kecepatan potong dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
  • ukuran bahan yang dikerjakan
  • ukuran bagian tatal yang terpotong (dalamnya pemotongan x kecepatan pemakanan)
  • tingkat kehalusan yang diinginkan
  • bahan pahat yang digunakan
  • bentuk pahat
  • pencekaman/penjepitan benda kerja
  • macam dan keadaan mesin bubut
Pada pemotongan kasar harus digunakan putaran mesin yang rendah (lambat) dan kecepatan pemakanan yang besar (cepat) maka hasilnya akan baik.
Pada pemotongan dengan tingkat penyelesaian halus digunakan putaran mesin yang tinggi dan kecepatan pemakanan yang lambat.
5. Kecepatan potong
Kecepatan putar benda kerja ditunjukkan pada suatu titik yang berputar dalam satuan waktu.
Jika benda kerja dengan garis tengah d1 membuat 1 putaran tiap menit, maka panjang tatal (beram) yang terpotong dalam 1 menit adalah d x p = keliling.
Jika benda kerja berputar lebih dari 1 putaran dalam 1 menit, misalnya n putaran, maka panjang tatal yang terpotong dalam 1 menit adalah =
d x p x n.
Panjang tatal ini diukur dalam satuan meter tiap menit dan disebut dengan kecepatan potong.
Makin besar garis tengah benda kerja, maka makin panjang perbandingan tatal yang dibentuk. Kita liha, bahwa kecepatan potong itu dipengaruhi langsung oleh besarnya garis tengah benda kerja dan banyaknya putaran tiap menit.
Banyaknya putaran tiap menit = r.p.m (rotasi per menit)
Pada gambar-gambar teknik, ukuran garis tengah itu dinyatakan dalam mm, tetapi kecepatan potong dalam membubut dinyatakan dalam m/menit. Olehnya itu kita harus membaginya dengan 1000 untuk memperoleh satuan meter.
maka putaran didapatkan dengan rumus :
Kecepatan potong ini dipersiapkan untuk pemotongan secara terus menerus selama 1 jam atau terputus-putus degnan jumlah waktu 1 jam tanpa mempertajam (mengasah) pahat potongnya.
Waktu 1 jam ini relatif, karena kadang-kadang kurang, kadang-kadang lebih dari 1 jam (secara praktis).
Contoh : Bahan yang akan dikerjakan adalah St.37 dengan kecepatan potong = 20-25 m/menit ; V = 20 m/menit, artinya bahan ini dikerjakan dengan pahat potong HSS yang dipersiapkan untuk pemotongan secara terus menerus selama 1 jam atau terputus-putus dengan jumlah waktu 1 jam, tanpa mengasah pahatnya kembali.
Semakin naik kecepatan potong (untuk bahan yang sama), maka semakin berkurang umur pahatnya, dan semakin turun kecepatan potongnya maka semakin bertambah umurnya tetapi permukaan benda kerja kasar (perhatikan grafik)
Perlu diingat :
Untuk mengerjakan benda kerja di mesin bubut, tidak hanya kecepatan potong saja yang mempengaruhi, tetapi harus diperhatikan kecepatan pemakanan dan sudut-sudut pahatnya harus tepat untuk bahan yang dikerjakan serta proses pendinginannya (air pendingin).
6. Pahat bubut
Berdasarkan arah pemakanannya, pahat bubut terbagi atas :
- pahat kanan, bila pahat dipegang pada permukaannya menghadap pekerja dengan ujung menunjuk ke bawah dan ujung potong berada di sebelah kanan atau memotong dari arah kanan ke kiri
- pahat kiri, memotong dari arah kiri ke kanan

Berdasarkan bentuk dan penggunaannya, pahat bubut terbagi atas :
- pahat kasar
- pahat halus (penyelesaian)
- pahat sisi
- pahat potong
- pahat alur
- pahat ulir (ulir luar dan dalam)
Berdasarkan kedudukan dari bentuk kepala potongnya terhadap poros dari pahat, maka pahat bubut terbagi atas :

6.1 Gambar Penggunaan/Pemakaian Pahat-pahat Bubut

6.2 Sudut-sudut pahat bubut
Sudut-sudut pahat bubut tergantung dari bahan benda kerja dan bahan pahat itu sendiri.
Pahat-pahat tersebut mungkin dibuat dari baja perkakas, baja kecepatan tinggi atau carbide. Pahat yang terbuat dari baja kecepatan tinggi sangat keras (liat) dan tahan panas sampai 600oC. Pahat jenis ini umum digunakan karena dapat melayani hampir semua keperluan.
Pahat-pahat bubut mempunyai kesamaan patokan bentuk seperti pada pahat-pahat lainnya, misalnya pada bentuk bidang baji.
6.3 Sudut-sudut pahat dari bahan baja kecepatan tinggi
Untuk kuningan, perunggu, bahan yang rapuh dan keras.
Untuk bahan lunak dan aluminium murni.
Untuk perunggu liat dan lunak
Untuk baja tuang yang berkualitas 34 - 50 kg/mm2
Untuk baja tuang yang berkualitas 50 - 70 kg/mm2
Untuk baja tuang yang berkualitas lebih dari 70 kg/mm2, seperti kuningan merah dan perunggu
6.4 Mengatur letak tinggi pahat bubut
Letak ujung sisi pemotong pahat harus disesuaikan tepat pada gerakan sumbu benda kerja.
Jika letak pahat di atas sumbu, maka garis sumbu dan sudut tatal akan membuat sudut lebih besar dan sudut bebasnya berkurang.
Akibatnya pahat akan melentur dan sisi depan bagian bawah akan masuk lebih dalam pada benda kerja.
Jika letak pahat di bawah sumbu, maka besarnya sudut antara garis sumbu dan sudut tatal akan berkurang, dan sudut bebasnya menjadi besar.
Kedudukan pahat yang demikian akan mengakibatkan benda kerja rusak dan terangkat.
Untuk menghindari getaran pada pahat, maka pahat harus diikat sependek mungkin pada tempat pahat.
Mengatur tinggi rendahnya pahat ialah dengan keping baja yang berbentuk cekung. Kedudukan pahat harus rata, sejajar dengan tempat pahat.

7. Ketirusan
Ketirusan digunakan untuk bermacam-macam keguanaan di bengkel, misalnya untuk pengikatan dan sealing. Pada penggunaan yang umum ketirusan ini sudah dinormalisasikan.
Bentuk tirusnya dapat dibuat di mesin bubut dengan 3 perbedaan cara :
  1. Membubut tirus dengan eretan atas
  2. Membubut tirus dengan menggerakkan kepala lepas
  3. Membubut tirus dengan perlengkapan pembubutan tirus
7.1 Mengatur eretan atas dengan skala derajat
Eretan atas harus diatur searah dengan arah ketirusan yang akan dibuat. Eretan atas digerakkan dari posisi nol pada skala sampai menunjukkan setengah dari sudut ketirusan (a/2) dan dikencangkan dengan baut.
7.2 Mengatur eretan atas dengan pemeriksa tirus
Pemeriksa tirus dapat digunakan sebagai bahan dasar pengaturan eretan atas.
Dial indicator ditempatkan pada ereta atas dan ujung dial disentuhkan pada sepanjang sisi pemeriksa tirus.
Pengaturan yang benar adalah bila dialnya tidak menunjukkan perbedaan.
7.3 Mengatur sudut
Untuk operasi pembubutan, pengaturan sudutnya adalah sudut dari kemiringan atau setengah dari sudut ketirusannya (a/2).
Sudut (a/2) adalah = tg (a/2) = 

0 komentar:

Posting Komentar